http://arti.master.irhamna.googlepages.com/bintang.js' type='text/javascript' galaxy
BACA DAN TEMUKAN HAL-HAL MENARIK

Laman

SELAMAT MEMBACA DAN TEMUKAN HAL-HAL MENARIK

Kamis, 07 Juni 2012

WAJAH BURUK DUNIA PENDIDIKAN

      Pernahkah kita mengalami kekejaman? Sebagian orang akan mengiyakan dan mengatakan pernah atau bahkan menjadi pemeran. Lalu yang lain akan bingung dengan dirinya sendiri. Ya, tidak dapat dipastikan dan tidak dapat pula dikalkulasi. Namun, semua itu dapat dilihat dan diamati dengan jelas melalui dua bola mata yang masih peka dengan keadaan. Dan tentunya kita dapat merasakan, kekejaman yang terjadi seolah tak menyisakan sedikitpun ruang kenyamanan bagi kita sehingga kita menjadi korban yang tak diberi perhatian apa-apa. Seperti itulah wajah buruk yang menjadi cermin pendidikan saat ini. Kita seolah terkurung dan menjadi korban dari kekejaman rumah sendiri.
      Lihatlah pada naungan kita berada. Naungan pendidikan yang menjadi rumah tempat kita bereksperimen, tempat beraksi, tempat pengembangan pemikiran, katanya. Tempat meraut, merangkai dan manguraikan segala imajinasi dan pengetahuan. Sungguh kadang tak membuat kita senang bila terlalu larut di dalamnya. Betapa tidak? Rumah yang seharusnya nyaman untuk kita berlindung, seolah tak dapat mmberikan apa-apa pada penghuninya. Di dalam, sesak dengan kondisi yang memprihatinkan oleh sarana sehingga ketidaktercapaian tujuan yang ingin dicapai pun terjadi.
Mari tengok ruangan kuliah yang selalu digunakan oleh mahasiswa untuk menemukan dan mendapatkan secercah ilmu pengetahuan. Prihatin! Tak terelakkan jika kata itu yang spontan keluar.      
      Tak dapat disalahkan pula sebab itu mewakili perasaan yang tak dapat terbendung untuk mengungkapkan atau bahkan mengeluarkan kegundahan hati bagi siapa saja yang melihatnya.  Masuk dan perhatikan papan tulis yang rutin digunakan setiap hari. Sekilas mahasiswa sudah terbiasa dengan keadaan benda ini. Tetapi, ada suatu rasa tersendiri yang  menyentuh sanubari kita. Akan menjadi bahan tertawaan ketika dosen menuliskan materi kuliah di papan tulis, lantas di tengah-tengah papan tulis terlihat tembok dan tanpa disadari di tempat itu pun dituliskan, dan ternyata papan tulis itu bolong.
      Memang lucu. Tetapi, sesungguhnya dalam hati kita akan timbul pemikiran yang bisa saja memicu adrenalin kita tentang gambaran pendidikan Indonesia. Pendidikan yang katanya diutamakan. Namun, tergambar jelas dari hal kecil seperti ini, papan yang mungkin dianggap hal sepele telah memperlihatkan gambaran kepedulian terhadap pendidikan. Mungkinkah juga tak disadari jika sarana dan prasarana dapat mendukung tercapainya suatu mutu pendidikan yang baik.
Sebagian orang akan berpikir bahwa hal semacam ini adalah hanya hal kecil. Tetapi tunggu dulu.      
      Mari kita perhatikan proses keberhasilan pendidikan itu sendiri. Hal kecil akan menjadi luar biasa jika kita dapat mengendalikan dan dapat memberikan respon yang baik. Peningkatan mutu pendidikan tak akan dapat terealisasi hanya dengan impian dan kata-kata belaka. Tindakan dan perilaku yang berawal dari hal kecil sangat menentukan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Teruatama dalam mencapai mutu pendidikan yang baik.
      Adakah sisi lain yang masih mengkhawatirkan? Ya. Tentu masih banyak lagi. Ketika sedang gencar-gencarnya beredar isu beasiswa. Mahasiswa berbondong-bondong untuk memasukkan berkas dalam  kepengurusan tersebut. Terutama bagi mahasiswa yang berprestasi dan dianggap tidak mampu.  Pemerintah telah memberikan apresiasi terhadap mereka yang memenuhi syarat untuk mendapatkannya. Lalu sudahkah terealisasi dengan baik? Jelaslah orang yang sudah pernah merasakannya akan mengatakan ya. Sudah terelalisasi dengan baik atau bahkan akan mengatakan sangat baik. Tetapi tak sedikit orang yang berteriak dalam hati sampai memicu adrenalin mereka untuk meneriakkan ini tidak adil. Ini belum terealisasi dengan baik. Mengapa? Tak jarang orang yang telah memenuhi syarat dan layak untuk mendapatkannya justru tak mendapatkan perhatian apa-apa. Yang terjadi malah sebaiknya. Ini adalah korban kekerasan rumah sendiri. Ada apakah di balik semua ini? Masihkah ada yang mau peduli?
      Untuk mencapai mutu pendidikan yang diharapkan, seharusnya berjalan sebagaimana prosedur yang semestinya. Tak perlu membuat diskriminatif tertentu  untuk menjalankan semuanya. Bukan hanya itu. Mulai memperhatikan hal-hal kecil saja terutama dalam dunia pendidikan adalah langkah awal yang baik untuk mewujudkan mutu pendidikan yang baik dan bermoral. Di satu sisi, mungkin kita harus langsung turun tangan untuk mengantisipasi keadaan pendidikan saat ini . Tapi, di sisi lain kita membutuhkan pendukung untuk menyukseskan apa yang akan kita lakukan.  Lalu, siapa yang harus memulainya?

RONA WAJAH DI LEMBAH MALAM


Aku rindu….
ketika matamu mulai terpejam di ujung siang
Saat itupun mendung kembali menghias langit
di kala mentari sedang merekah

Ingin kujelmakan nafas jadi saksi kerinduanku,
di saat rona wajah dalam rindu tak kunjung tersimpul
sampai senja mengakhiri siang
menuju tepi malam

Angin membawaku pada bayangan rona wajah yang kurindu
Dan bertanya….
Akankah  kau terlelap dalam buaian angin
Ataukah kau `kan berdendang menyambut malam bersama kerinduanku
Hingga kau sembunyikan rona wajahmu di lembah malam

LIRIK NOVEMBER

Puisi yang berjudul “Lirik November” karya Bode Riswandi terdiri dari 8 stanza, 29 larik, yang masing-masing stanza terdiri dari 3, 4 dan 6 larik. Dari judul puisi ini yang berjudul “Lirik November” menyatakan suatu kejadian yang terjadi pada bulan November.

Stanza pertama :
“melayari November yang subuh di mata ini
mengenali batin yang menyauh di dalam diri
yang rapuh.”

Pada stanza di atas , larik pertama “ Melayari November yuang subuh” November menggambarkan bahwa pada bulan itu atau pada bulan November merupakan bulan di mana Bode Riswandi dilahirkan. Jadi mungkin melayari November yang subuh  berarti pada saat ulang tahunnya di bulan November, atau mungkin dia terbangun saat subuh dan ketika dia terbangun dan teringat bahwa pada hari itu tepatnya  bulan November adalah hari ulang tahunnya. Nah mungkin pada saat itu, ketika selesai shalat subuh dan sinar matahari pagi sudah mulai menyinari bumi maka dia mengatakan  melayari November berarti pada saat memasuki bulan November itu dan ternyata bulan itu bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Pada lirik selanjutnya “di mata ini mengenali batin yang menyauh di dalam diri yang rapuh” mungkin pada saat  hari ulang tahunnya itu dia teringat dan merenungi dirinya bahwa ternyata dengan usianya yang semakin berkurang, dirinya masih tetap berada pada keadaan yang rapuh, atau mungkin seolah-olah tak berguna atau belum banyak bermanfaat dalam hidupnya.

Stanza II
Angin menjelang dalam bentuk seribu tembang
Usiaku ngambang dalam langkah-langkah telanjang`
Mencari rindu tak berpintu seperti aku mencintaimu.

Pada Stanza ini irama yang diciptakan sangat indah sekali. Seperti penggunaan kata “menjelang, terbang, ngambang, dan telanjang”. Penggunaan kata-kata itu membentuk rima yang sangat indah. Pada larik pertama “ Angin menjelang dalam bentuk seribu tembang”, Angin di sini adalah suatu zat yang tidak dapat dilihat namun kedatangannya atau hembusannya dapat dirasakan. Kemudian seribu tembang mungkin maknanya i sini adalah begitu  banyak tembang yang terdengar saat subuh itu atau mungkin ada siulan burung dan gema  lantunan ayat-ayat suci maupun alunan musik rohani penyejuk jiwa. Jadi kalimat ini menggambarkan suatu peristiwa yang mungkin ketika merenung di saat subuh, di mana sang fajar  berancang-ancang untuk keluar dari tempat persembunyiannya, di saat itu pula semilir angin sepoi-sepoi berhembus seiring dengan  lantunan tembang pada saat itu , mungkin tembang yang dimaksud di sini adalah lantunan  ayat-ayat suci atau alunan musik rohani yang terdengar sayup-sayup sehingga membawa suasana perasaan penyair untuk merenungi diri bertepatan dengan bulan kelahirannya.  Nah pada larik selanjutnya “Usiaku ngambang dalam langkah-langkah telanjang”. Usiaku, ku di sini adalah seorang diri Bode kemudian usiaku berarti menyatakan usia Bode, selanjutnya ngambang dalam langkah-langkah telanjang, ngambang berarti tidak jelas artinya ke mana dan cara atau proses yang dijalani terlalu meluas sehingga sulit  atau bahkan belum menemukan titik temu yang sebenarnya. Langkah-langkah telanjang berarti dia melangkah atau mengarungi kehidupannya selama ini, hanya melangkah-melangkah saja, tanpa ada suatu pandangan atau tujuan dalam melangkah. Jadi mungkin dalam usianya yang sudah sekian, Bode merasa arah atau kehidupannya itu masih belum menemukan titik terang sehingga dalam melaluinya masih terombang-ambing oleh arah yang tak menentu. “Mencari rindu tak berpintu. Rindu berarti keinginan atau hasrat  ingin bertemu dengan seseorane yang disebabkan karena telah lama berpisah. Tapi di sini dia mengatakan bahwa mencari rindu tak berpintu. Mungkin dalam perenungannya  bahwa usaha untuk menemukan sesuatu yang belum dia  temukan dalam dirinya dan mungkin sesuatu itu adalah potensi yang belum digali dalam dirinya atau mungkin ada sesuatu yang belum dia ketahui dalam hidupnya sehingga dia mencarinya agar sesuatu itu bias dating atau tumbuh dalam  dirinya tanpa harus ada pintu artinya tanpa harus ada proses yang bersumber dari hal atau orang lain, kemudian pencariannya itu dia andaikan “seperti aku mencintai-Mu”, aku di sini adalah diri  Bode sedangkan Mu di sini adalah Tuhan . Nah menurut penafsiran saya, pengandaian ini  bermakna bahwa kalau kita mencintai Tuhan  berarti tidak ada unsur-unsur paksaan dari pihak lain, kecuali kita mennyadarinya sendiri atas keberadaann-Nya dan kita akan mencintai-Nya, maka dalam  stanza ini seorang Bode  mungkin ingin menemukan sesuatu yang dicarinya itu dapat lahir akibat dari kesadarannya sendiri.

Stanza III
Mengenang ulang tahun adalah kutukan kabut
Maka ciderailah aku dengan pisau kematian yang manis
Sepanjang rinduku menggerimis.

Pada Stanza ini  larik pertama “ mengenang ulang tahun adalah kutukan kabut, mengenang berarti mengingat-ingat, sedangkan kutukan kabut, kabut itu berarti suatu suasana yang sangat buram, ketika ada kabut maka kita sulit menebak ada apa di tempat itu. Nah kutukan kabut di sini menurut penafsiran saya adalah walaupun di bulan November itu hari ulang tahunnya dan berarti angka usuanya bertambah tapi sesungguhnya angka usia bertambah dan semakin mengurangi usia kehidupan kita dan tidak ditahu kapan datangnya kematian. “ Maka ciderailah aku dengan pisau kematian yang manis”, aku di sini adalah seorang diri penyair yaitu Bode Riswandi, kemudian ciderailah berarti seolah perintah untuk menciderainya atau melukainya. Dengan pisau kematian yang manis, pisau kematian di sini berarti ajal atau maut yang ditakdirkan dan dikehendaki oleh Tuhan. Jadi Pernyataan Bode “Maka ciderailah aku dengan pisau kematian yang manis. Kembali lagi ke pemaknaan awal, Pisau kematian  berarti ajal kematian. Pisau berarti suatu benda yang membuat orang terluka sedangkan kematian berarti suatu keadaan di mana orang sudah tidak bernyawa lagi. Nah pisau kematian menggambarkan suatu keadaan yang membuat seseorang tak bernyawa lagi dalam artian datangnya ajal kematian. Kemudian kata “Manis” tentu bertolak belakang dengan kata “kematian” yamg biasanya kematian itu diimajikan dengan pahit, di mana manis itu bias menggambarkan suatu ketenangan, kebahagiaan ataupun ketentraman, sedangkan kematian menggambarkan suatu keadaan yang di dalamnya sudah tidak ada kehiodupan. Namun antara dua kata yang bertolak belakang dari segi makna bias terangkai dalam satu larik puisi yaitu “pisau kematian yang manis”, mungkin seorang Bode ingin mati atau dia mohon kepada Tuhan agar dia mati dengan membawa ketenangan atau dia ingin ketika ajal menjemputnya, maka dia dalam keadaan yang tenang dan bahagia, jadi dia ingin mati dengan suasana yang damai dan tenang.

“Sepanjang rinduku menggerimis”

Larik ini memiliki keterkaitan dengan larik sebelumnya. “Maka ciderailah aku dengan pisau kematian yang manis sepanjang rinduku menggerimis”,nah di sini seorammmmg Bode ingin mati dalam keadaan tenang dan bahagia, dia memohon untuk menemui ajalnya dengan keadaan seperti itu. “Sepanjang rinduku menggerimis”, rinduku, ku di sini adalah seorang Bode yang ingin mati menggerimis yang menggambarkan suatu keadaan di mana munculnya tetesan-tetesan air hujan yang begitu halus. Tapi tetesan-tetesan itu turun terus-menerus. Jadi imaji menggerimis di sini menggambarkan semangat atau keinginan yang sangat diharapkan oleh seorang Bode sehingga “sepanjang rinduku menggerimis” dapat diimajikan bahwa seorang Bode ingin mati atau ingin menemui ajalnya, dalam keadaan tenang dan bahagia selama keinginan itu masih tertanam dalam dirinya.
Stanza IV
Menelaah wajahku detik luruh di sungai keruh
Reriak kelahiran netes dari daun rahim ke akar diri
Serupa pucuk matahari ia mengaji terik
Menggambartekukur terbang ke ambang kubur

Pada larik pertama dalam stanza ini “menelaah wajahku detik luruh di sungai keruh”. Menelaah berarti mengkaji,mencari atau menafsirkan sesuatu sehingga kita dapat menemukan makna sesungguhnya yang tersembunyi. Wajahku, ku di sini berarti seorang Bode, wajah berarti paras, muka yang tampak atau yang dapat dilihat. Nah jadi menelaah wajahku mungkin dia lebih mencari sesuatu, menafsirkan atau bahkan mengenali karakter dirinya yang diimajikan dengan wajah. Kemudian detik luruh di sungai keruh, Luruh berarti jatuh atau gugur karena sudah waktunya, seperti halnya buah atau daun. Imaji detik luruh di sini berarti menggambarkan suatu perjalanan kehidupan yang waktunya begitu singkat sepertihalnya selang antara detik per detik yang terbuang  begitu saja ketika sampai waktunya untuk hilang. Selanjutnya “sungai keruh”, imaji sungai berarti aliran air dan keruh berarti tidak jernih atau kotor, sehingga imaji “sungai keruh” menggambarkan perputaran kehidupan yang tidak menentu atau bahkan kehidupan tersebut sudah ternodai atau tercemar oleh lingkungan hidup sendiri. Jadi pada lirik ini mungkin menggambarkan suatu penelitian atau pengkajian untuk proses pengenalan diri seorang Bode di mana semakin hari semakin banyak waktu yang terbuang bahkan tak dapat dimanfaatkan dengan baik hingga sampai waktunya untuk hilang telah di depan mata, dan masih belum menemukan kehidupan yang sesungguhnya bahkan mungkin kesempatan dan manfaat itu justru mengarah ke arah yang telah ternodai sepertihalnya diimajikan dengan “sungai yang keruh”.
“Reriak kelahiran netes dari daun rahim ke akar diri” berarti gerakan mengombak di permukaan air, atau gerakan air yang merupakan lingkaran.
Akar berarti bagian tumbuh-tumbuhan yang masuk ke dalam tanah sebagai alat pengikat dan pengisap air dan zat makanan atau unsur yang menjadi dasar pembentukan kata. Jadi larik ini mungkin menggambarkan  perjalanan hidup kita sejak berada di alam kandungan atau rahim kemudian kita lahir di dunia sampai kita dewasa dan bisa berdiri sendiri.

Stanza V
Waktu memetir di langit ranum
Dan di senja karakas November melayang
Dikapaskan cinta menyeka awang-awang
Kemudian kandas.
Dalam stanza ini menggambarkan dalam perenungannya bahwa waktu berjalan dengan begitu cepat sampai pada waktunya,hingga bulan November lagi akan lepas dan pergi untuk memunculkanlembar kehidupan yang baru atau membuka ruang baru untuk menggapai impian atau cita-cita namun akhirnya akan berakhir juga.

Stanza VI
Mengenang ulang tahun kerongkongan mengapur
Anjing manikan loncat dari balik dada
Menyalak kapak menggantang impian-impian lajang

Pada stanza ini pertama menggambarkan bahwa ketika saat ulang tahun di bulan November tersebut maka usia kehidupannya secara terus menerus akan berkurang yang diimajikan dengan kerongkongan mengapur. Kemudian anjing manikin loncat dari balik dada, ini menggambarkan bahwa timbul dorongan atau semangat dari dalam diri. Selanjutnya Menyalak kapak menggantang impian-impian lajang. Pada larik ini bahwa semangat itu dapat dipicu bagaikan kapak,artinya imaji kapak menggambarkan bahwa ketika  kapak dipicu untuk memotong sesuatu seperti kayu,maka kayu itu akan terpotong,mungkin seperti halnya pada larik ini menggambarkan bahwa adanya dorongan atau semangat dalam diri dan bagaimana memicu semangat itu sehingga dapat menggatang berarti ada takaran tertentu terhadap impian-impian lajang di sini telah diketahui seorang Bode Riswandi masih lajang. Maka dapat di gambarkan bahwa impian-impian Bode semasa lajang.

Stanza VII
Aku ingin jadi mawar dalam pelepah rembulan
yang mekar direbah batu dan menyungai
setiap setiap kali disemai.

Dalam stanza ini larik pertama:”aku ingin jadi mawar dari pelepah rembulan”. Aku di sini adalah seorang Bode,mawar itu bunga yang sangat indah berarti rembulan itu adalah sinar bulan yang indah pula yang dapatmenambah keindahan alam di malam hari. Sepertinya kalau bunga mawar yang jika ada sinar rembulan,maka akan bertambahlah nilai keindahan mawar itu. Jadi seorang Bode  ingin menjadi mawar dari pelepah rrembulan,mungkkin dia ingin menjadi seorang pribadi yang baik yang dapat bermanfaat dalam kehidupan atau mungkin dia ingin menjadi sosok manusia yang gagah dan berguna bagi orang lain atau mungkin dia ingin jadi sosok yang disenangi oleh orang lain karena  keindahan atau kebaikan yang dia miliki.
Yang mekar di rebah batu, di rebah batu berate tidak ada kehidupan atau kering dan di sini ada kata mekar yang seolah-olah tumbuh subur, sehingga mungkin Bode ingin hidup dan tetap berkembang walau[un berada pada pada keadaan yang kering akan kehidupan artinya walaupun lingkungan tidak mendukung maka dia ingin jadi yang terbaik dan yang terindah. Kemudian “Menyungai setiap kali disemai” ini mungkin menggambarkan bahwa dia ingin hidup sepertihalnya sungai yang mengalir dan setiap kali dia menggantung cita-citanya, dia ingin dalam proses pencapainnya itu seperti halnya air yang mengalir di sungai artinya tetap tenang dan tidak ada hambatan dalam mengalir.

Stanza VIII
Wahai impian-impian lajang
Yang mendaki kening tropika
Yang berdiam di sungai suaka
Yang khusuk menabuh genta
Jadikan aku cempaka
Menyiang sampai rindu menjelang

Pada stanza ini tentang impian-impian atau cita-cita yang ynag tinggi yang ingin dicapai oleh seorang Bode dan dalam pencapaiannya mungkin dia ingin berjalan lancar dan tenang yang ingin dilindungi seperti halnya sungai suaka , di sini beraebagai pelindurti sungai yang dilindungi dan berusaha dengan sungguh-sungguh atau fokus pada satu titik seperti halnya menabuh genta artunya agra bias didengar oleh semua orang jadi dia ingin bermanfaat bagi semua orang. Selanjutnya jadikan aku cempaka. Cempaka biasanya dijadikan sebagai pelindung di pemakaman.Jadi mungkin dia ingin dilindungi oleh Tuhan sepanjang dia menginginkan kematian itu, seperti dikemukakan dalam larik yang berbunyi “jadikan aku cempaka menyiang sampai rindu menjelang”.

JURNAL

ANALISIS KESALAHAN EYD PADA KORAN KENDARI POS EDISI JUMAT, 14 OKTOBER 2011, HALAMAN 1-5
OLEH
ITAMEIARNI


A.    PENDAHULUAN
Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan salah satu aspek penting yang harus diperhatikan dalam setiap penulisan. Khususnya penulisan dalam ruang lingkup akademik atau ilmiah. Dalam bahasa jurnalistik pun penggunaan EYD harus diperhatikan dengan baik. Seorang penulis atau jurnalis tidak boleh melakukan kesalahan yang fatal berkaitan dengan EYD, sebab tata cara penulisan telah diatur dalam pedoman EYD.
Namun, pada kenyataannya masih banyak terdapat kesalahan penggunaan EYD yang dilakukan para mahasiswa jurnalistik ataupun jurnalis media massa. Misalnya, pada koran atau surat kabar masih banyak terdapat kesalahan penggunaan EYD. Beberapa aspek kesalahan EYD yang sering terjadi antara lain: penulisan huruf kapital, huruf miring, kata turunan, gabungan kata, partikel, singkatan, akronim, angka, dan penulisan lambang bilangan.

B.    PEMBAHASAN
Pada koran Kendari Pos banyak terjadi kesalahan-keslahan penggunaan EYD. Adapun contoh kesalahan-kesalahan tersebut dapat dilihat pada uraian berikut.
1.    Penulisan Huruf Kapital
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat, sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa dan bahasa. Selain itu, huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi, dan dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
 Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku dan bahasa yang dipakai bentuk dasar kata turun. Huruf kapital juga tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi nama unsur diri.
Dalam koran Kendari Pos edisi Jumat, 14 0ktober 2011 halaman 1-5 terdapat beberapa kesalahan penulisan huruf kapital. Kesalahan-kesalahan tersebut adalah sebagai berikut.
Kesalahan:
a.    Detik-detik Pembakaran Kantor Bupati, Danramil Menerobos dan Memaksa Ridwan Zakariah Tinggalkan Ruangan (hal.1)
b.    Pemda tak Ajukan Formasi CPNS, Pusat Bersyukur (hal.1)
c.    …agar KPK sebagai penegak Hukum tidak melakukan transaksi. (hal.2)
d.    Soybean tripsin inhibitor (STI) dan browmen birkprotease inhibitor (BBI) berfungsi sebagai terapi alami…(hal.)
e.    Petani Kopra kini tengah merugi karena harga jual kembali rendah. beruntung saat ini Jambu Mete sudah mulai dipanen. (hal.3)

Seharusnya:
a.    Detik-Detik Pembakaran Kantor Bupati, Danramil Menerobos dan Memaksa Ridwan Tinggalkan Ruangan
b.    Pemda Tak Ajukan Formasi CPNS, Pusat Bersyukur
Pada kata “detik-detik” harus menggunakan huruf kapital pada huruf pertama di setiap unsur-unsurnya karena kata “detik-detik” merupakan bagian dari judul sebuah wacana. Demikian pula dengan kata “Tak” harus menggunakan huruf kapital pada huruf pertama.
c.    …agar KPK sebagai penegak hukum tidak melakukan transaksi. (hal.2)
Kata “hukum” tidak perlu menggunakan huruf capital karena bukan merupakan nama suatu badan.
d.    Soybean Tripsin Inhibitor (STI) dan Browmen Birkprotease Inhibitor (BBI) berfungsi sebagai terapi alami…(hal.2)
Di setiap unsur singkatan seperti di atas harus menggunakan huruf kapital.
e.    Petani kopra kini tengah merugi karena harga jual kembali rendah. beruntung saat ini jambu mete sudah mulai dipanen. (hal.3)
Kata “kopra” dan “jambu mete” tidak menggunakan huruf kapital.

2.    Penulisan Huruf Miring
Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah dan ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya. Selain itu, huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan. Dalam tulisan huruf miring dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
Kesalahan penulisan huruf miring sering ditemui dalam bahasa jurnalistik, khususnya koran. Dalam koran Kendari Pos edisi Jumat,14 Oktober halaman 1-5 terdapat kesalahan penulisan huruf miring. Kesalahan-kesalahan tersebut adalah sebagai berikut.
Kesalahan:
a.    Azrul ananda direktur utama Jawa Pos menerima penghargaan Young Reader Newspaper of The year and Top Winner for Enduring excellence oleh Presiden. (hal.1)
   
b.    Sebuah tropi eksklusif karya seniman Prancis menjadi tanda kemenangan bagi Jawa Pos sebagai World Young Reader Newspaper of the year 2011 di Wina, Austria. (hal.1)
c.    Yang putra mengangkat tanda penghargaan Newspaper of the year, yang putri tanda penghargaan Top Prize untuk kategori Enduring Excellence. (hal.1)
d.    Tanya Gaarder sambil membolak-balik buku Vita Brevis bersampul hitam. (hal.1)
e.    Selain Vita Brevis, buku terjemahan karya Gaarder yang beredar tanpa hak cipta adalah Misteri Soliter. (hal.1)
f.    Pihaknya juga melakukan sweeping makanan ke sejumlah pemondokan. (hal.2)
g.    “Istri saya juga ada di rombongan itu,” ujarnya kepada INDOPOS. (hal.2)
h.    Koran Seputar Indonesia 10 Oktober 2008 memuat artikel dengan judul Kulit Sehat dengan Kedelai. (hal.2)
i.    Isoflavon juga terkandung di dalamnya. (hal.2)
j.    Ia merupakan fitoestrogen yang menyerupai hormon estrogen sehingga dapat berinteraksi dengan reseptor estrogen. (hal.2)
k.    …kedelai dikategorikan superfood, yang mengandung banyak fitonutrien, seperti antioksidan, antosianin, vitamin C, mangan, serat, dan isoflavon.(hal.2)
l.    …perusahaan penyedia layanan berupa suara, data dan mobile broadband yang terdepan dengan Mobile VoIP Technology. (hal.3)
m.    …sebagai bentuk dari pencitraan Global Brand dan Local Brand yang menyatu dalam konsep “Glocal Transformation”. (hal.3)
n.    … dan aplikasi terbaik berpadu dengan kekuatan S i2i di bidang teknologi mobile internet solution. (hal.3)
o.    Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) berencana menambah daftar perusahaan penerima tax holiday atau penghapus pajak. (hal.3)
p.    Jakarta membuat wajah peserta meet and greet begitu ceria. Ia menjadi host dalam perjalanan itu. Setelah hampir tiga jam di perjalanan tibalah rombongan di fashion center… (hal.3)
q.    …sekaligus digelar awarding inline competition. Yakni kompetisi undian Yamaha Mio yang dilakukan secara online melalui twitter. (hal.3)
r.    Head Marketing Yamaha, Bima mengatakan apa yang dilakukan Yamaha kepada konsumennya…(hal.3)
s.    …penjualan Yamaha didominasi oleh sepeda motor Matic.(hal.3)

Seharusnya:
a.    Azrul ananda direktur utama Jawa Pos menerima penghargaan Young Reader Newspaper of The year and Top Winner for Enduring excellence oleh Presiden. (hal.1)
b.    Sebuah tropi eksklusif karya seniman Prancis menjadi tanda kemenangan bagi Jawa Pos sebagai World Young Reader Newspaper of the year 2011 di Wina, Austria. (hal.1)
c.    Yang putra mengangkat tanda penghargaan Newspaper of the year, yang putri tanda penghargaan Top Prize untuk kategori Enduring Excellence. (hal.1)
d.    Tanya Gaarder sambil membolak-balik buku Vita Brevis bersampul hitam. (hal.1)
e.    Selain Vita Brevis, buku terjemahan karya Gaarder yang beredar tanpa hak cipta adalah Misteri Soliter. (hal.1)
f.    Pihaknya juga melakukan sweeping makanan ke sejumlah pemondokan. (hal.2)
g.    “Istri saya juga ada di rombongan itu,” ujarnya kepada Indopos. (hal.2)
h.    Koran Seputar Indonesia 10 Oktober 2008 memuat artikel dengan judul Kulit Sehat dengan Kedelai.(hal.2)
i.    Isoflavon juga terkandung di dalamnya. (hal.2)
j.    Ia merupakan fitoestrogen yang menyerupai hormon estrogen sehingga dapat berinteraksi dengan reseptor estrogen. (hal.2)
k.    …kedelai dikategorikan superfood, yang mengandung banyak fitonutrien, seperti antioksidan, antosianin, vitamin C, mangan, serat, dan isoflavon.(hal.2)
l.    …perusahaan penyedia layanan berupa suara, data dan mobile broadband yang terdepan dengan Mobile VoIP Technology.(hal. 3)
m.    …sebagai bentuk dari pencitraan Global Brand dan Local Brand yang menyatu dalam konsep “Glocal Transformation”. (hal.3)
n.    … dan aplikasi terbaik berpadu dengan kekuatan S i2i di bidang teknologi mobile internet {olution. (hal.3)
o.    Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) berencana menambah daftar perusahaan penerima tax holiday atau penghapus pajak. (hal.3)
p.    Jakarta membuat wajah peserta meet and greet begitu ceria. Ia menjadi host dalam perjalanan itu. Setelah hampir tiga jam di perjalanan tibalah rombongan di fashion center… (hal.3)
q.    …sekaligus digelar awarding inline competition. Yakni kompetisi undian Yamaha Mio yang dilakukan secara online melalui twitter. (hal.3)
r.    Head Marketing Yamaha, Bima mengatakan apa yang dilakukan Yamaha kepada konsumennya…(hal.3)
s.    …penjualan Yamaha didominasi oleh sepeda motor Matic.(hal.3)
Penulisan istilah-istilah asing yang belum disesuaikan ejaannya, nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan, harus dicetak dengan huruf miring.



3.    Penulisan singkatan
Singkatan adalah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. Dalam pedoman EYD singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Misalnya, dan lain sebagainya  disingkat dlsb., dan lain-lain disingkat dll., sama dengan atas disingkat sda. Pedoman EYD menegaskan bahwa penulisan singkatan nama kimia, satuan ukuran, takaran timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik. Misalnya, rupiah (Rp), kilogram (kg).
Dalam koran Kendari Pos edisi Jumat, 14 0ktober 2011 halaman 1-5 terdapat beberapa kesalahan penulisan singkatan, khususnya singkatan nama orang. Kesalahan-kesalahan tersebut adalah sebagai berikut.
Kesalahan:
a.    M Mardhiansyah, Dosen Universitas Riau dan Pemerhati Masalah Bengkalis. (hal.5)
b.    Bupati Buton Utara (Butur), Drs H Ridwan Zakariah MSi mengaku…(hal.1)

Seharusnya :
a.    M. Mardhiansyah, Dosen Universitas Riau dan Pemerhati Masalah Bengkalis. (hal.5)
Setelah huruf “M” harus diberi tanda titik, karena merupakan singkatan nama orang.
b.    Bupati Buton Utara (Butur), Drs. H. Ridwan Zakariah, M.Si mengaku… (hal.1)
Setelah singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik.

4.    Penulisan akronim
Akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret  kata yang diperlakukan sebagai kata. Bahasa jurnalistik mengingatkan dua jenis akronim. Pertama, akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf capital. Contohnya, ABRI, SIM,IKIP. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital. Contohnya, Akabri, Kowani, Bappenas. Kedua, akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil. Contohnya, pemilu, rapim.
Dalam koran Kendari Pos edisi Jumat, 14 0ktober 2011 halaman 1-5 terdapat beberapa kesalahan penulisan akronim. Kesalahan tersebut adalah sebagai berikut.
Kesalahan:
a.    …dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub). (hal.5)

Seharusnya:
a.    …dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Perhubungan (permenhub).
Kata “permenhub” ditulis menggunakan huruf kecil karena bukan merupakan nama diri, tetapi merupakan gabungan suku kata dari deret kata seluruhnya.

5.    Penulisan angka
Dalam pedoman EYD, ada empat jenis penulisan angka. Pertama, angka menyatakan lambing bilangan atau nomor. Dalam tulisan ini lazim digunakan angka Arab dan angka Romawi. Kedua, angka digunakan untuk menyatakan (1) ukuran panjang, berat, luas,dan isi, (2) satuan waktu, (3) nilai uang, dan (4) kuantitas. Ketiga, angka lazim dipakai untuk menyatakan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat. Keempat, angka digunakan juga untuk menomoribagian kaangan dan ayat kitab suci. Dalam bahasa jurnalistik angka harus disederhanakan penulisannya.
Dalam koran Kendari Pos edisi Jumat, 14 0ktober 2011 halaman 1-5 terdapat beberapa kesalahan penulisan angka. Kesalahan tersebut adalah sebagai berikut.
Kesalahan:
a.    …penumpang meninggal dunia akibat kecelakaan Rp 1.250.000.000, penumpang meninggal di luar pesawat Rp 500.000.000, penumpang yang mengalami cacat Oetap total maksimum Rp 1.250.000.000, penumpang mengalami luka-luka dan perawatan rumah sakit Rp 200.000.000, kehilangan bagasi tercatat atau isi bagasi musnah Rp 200.000,-per kg dan maksimum Rp 4.000.000,...belum dinyatakan hilang Rp 200.000, per hari. (hal.4)
b.    Keterlambatan pesawat lebih dari 4 (empat) jam Rp 300.000 per penumpang, ganti kerugian untuk pihak ketiga yang meninggal dunia Rp 500.000.000. (hal.4)
c.    Jumlahnya kalau dikurs rupiah senilai Rp 38.875.000. (hal.2)

Seharusnya:
a.    …penumpang meninggal dunia akibat kecelakaan Rp 1,25 miliar, penumpang meninggal di luar pesawat Rp 500 juta, penumpang yang mengalami cacat tetap total maksimum Rp 1,25 miliar, penumpang mengalami luka-luka dan perawatan rumah sakit Rp 200 juta, kehilangan bagasi tercatat atau isi bagasi musnah Rp 200 ribu per kg dan maksimum Rp 4 juta,...belum dinyatakan hilang Rp 200 ribu per hari. (hal.4)
b.    Keterlambatan pesawat lebih dari empat jam Rp 300 ribu per penumpang, ganti kerugian untuk pihak ketiga yang meninggal dunia Rp 500 juta (hal.4)
c.    Angka yang menunjukkan bilangan utuh dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.
d.    Jumlahnya kalau dikurs rupiah senilai Rp 38,87 juta. (hal.2)

6.    Penulisan Lambang Bilangan
Penulisan lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Bila perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dikatakan dengan dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca. Misalnya, 210.000.000 penduduk Indonesia menjadi 210 juta penduduk Indonesia. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi. Misalnya, enam (enam) jam. Seharusnya, enam jam.
Dalam koran Kendari Pos edisi Jumat, 14 0ktober 2011 halaman 1-5 terdapat beberapa kesalahan penulisan lambang bilangan. Kesalahan tersebut adalah sebagai berikut.
Kesalahan:
a.    …sampai kemarin (13/10) total ada 6 calhaj yang meninggal.(hal.2)
b.    Sekitar 3 jaman. (hal.2)
c.    Keterlambatan pesawat lebih dari 4 (empat) jam…

Seharusnya:
a.    …sampai kemarin (13/10) total ada enam calhaj yang meninggal.(hal.2)
b.    Sekitar tiga jaman. (hal.2)
c.    Keterlambatan pesawat lebih dari empat jam …
Penulisan lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan.

7.    Penulisan Kata Turunan
Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan itu ditulis serangkai. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Dalam koran Kendari Pos edisi Jumat, 14 0ktober 2011 halaman 1-5 tidak terdapat kesalahan penulisan kata turunan.

8.    Penulisan Gabungan Kata
Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan.
Contoh gabungan kata yang harus ditulis serangkai adalah acapkali, adakalanya, akhirulkalam, daripada, darmawisata, belasungkawa, dukacita, kacamata, kasatmata, manakala, manasuka, matahari, olahraga, padahal, peribahasa, radioaktif, soptamarga, saputangan, saripati, sediakala, segitiga, sekalipun, sukacita, sukarela, sukaria, titimangsa.
Dalam koran Kendari Pos edisi Jumat, 14 0ktober 2011 halaman 1-5 tidak terdapat kesalahan penulisan gabungan kata.

9.    Penulisan Partikel
Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Contohnya, apa pun, kapan pun, di mana pun, rektor pun, sepuluh kali pun. Tetapi, ada pula kelompok yang dianggap padu sehingga ditulis serangkai. Contohnya, adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun.
Partikel per yang berarti `mulai`, `demi`, dan `tiap` ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
Contoh :
Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April

Dalam koran Kendari Pos edisi Jumat, 14 0ktober 2011 halaman 1-5 tidak terdapat kesalahan penulisan partikel.

Dari uraian kesalahan-kesalahan yang terdapat pada Koran Kendari Pos edisi Jumat, 14 Oktober 2011 halaman 1-5 di atas, maka yang paling banyak terdapat kesalahan EYD, terdapat pada penulisan huruf miring, sedangkan pada penulisan gabungan kata, kata turunan, dan penulisan partikel tidak ditemukan kesalahan EYD.

C.    PENUTUP
Berdasarkan uraian pembahasan kesalahan EYD pada Koran Kendari Pos edisi Jumat,14 Oktober 2011 halaman 1-5 di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kesalahan banyak terdapat pada penulisan huruf miring, sedangkan penulisan gabungan kata, penulisan kata turunan, dan penulisan partikel tidak terdapat kesalahan penulisan.
Dengan demikian, diharapkan kepada Kendari Pos untuk lebih memperhatikan kesalahan-kesalahan penggunaan EYD agar tidak terdapat  kesalahan-kesalahan berikutnya, khususnya pada penulisan huruf miring, huruf kapital, penulisan akronim, penulisan angka, penulisan nama bilangan, dan penulisan singkatan.

Kamis, 31 Mei 2012

ANALISIS NOVEL "KARENA KUTAHU ENGKAU BEGITU"

BAB II
KAJIAN PUSTAKA


2.1 Tokoh
    Dalam cerita fiksi perwatakan erat kaitannya dengan alur, sebab alur yang meyakinkan terletak pada gambaran watak-watak yang mengambil bagian di dalamnya, di samping perwatakan dicipta sesuai dengan alur tersebut. Peristiwa0peristiwa cerita yang didukung oleh pelukisan watak-eatak tokoh dalam suatu rangkaian alur itu menceritakan manusia dengan bebagai persoalan, tantangan, dalam kehidupannya. Cerita ini dapat ditelusuri dan diikuti perkembangannya lewat perwatakan tokoh cerita atau penokohan cerita. “penokohan” di sini berasal dari kata “tokoh” yang berarti pelaku. Karena yang dilukiskan mengenai watakwatak tokoh atau pelakucerita, maka disebut perwatakan atau penokohan.
Dengan demikian perwatakan atau penokohan adalah pelukisan tokoh/pelaku cerita melalui sifat-sifat, sikap dan tingkah lakunya dalam cerita. Moh. Thani Ahmad (dalam Dewan Bahasa 1974 : 509) menyebutkan bahwa sifat menyeluruh dari manusia yang disorot, termasuk perasaan, keindahan, cara berpikir, cara bertindak, dan sebagainya.
Pengertian tokoh di atas menurut Panui Sudjiman adalah individu rekaan berwujud atau binatang yang mengalami peristiwa atau lakuan dalam cerita. Manusia yang menjadi tokoh dalam cerita fiksi dapat berkembang perwatakannya baik segi fisik maupun mentalnya. Forster membagi perwatakan tokoh atas watak bulat (round character) dan watak datar (flat character).
Dalam cerita fiksi watak datar (disebut”watak latar” atau “watak pipih” menurut istilah Malaysia) mencerminkan okoh yang wataknya sederhana, yang dilukiskan satu segi wataknya saja, dan watak ini tidak/kurang berkembang. Dalam watak datar ini menurut Panutis adalah tokoh strectip, selalu ibu tiri yang selalu dilukiskan berperangai kejam. Tokoh datar banyak digunakan dalam cerita-cerita wayang dan cerita0cerita didaktis yang pada mumnya tidak memerlukan perkembangan watak tokoh. Selanjutnya jika lebih dari satu cirri/segi watak yang ditampilkan di dalam cerita, sehingga tokoh itu dapat dibedakan dari tokoh-tokoh yang lain, maka ia disebut memiliki watak bulat (round character) yang kompleks perwatakannya, Nampak segala seginya, kekuatan maupun kelemahannya, dan tidak menimbulkan kesan “hitam-putih”, serta terus berkembang hamper sepanjang cerita.
Menurut Mido (Eri, 2005 : 36) tokoh dalam cerita mungkin saja hanya satu orang atau lebih dari satu orang. Kalau lebih dari satu orang maka ditinjau dari segi perannya. Tokoh adalah pemeran dalam suatu cerita, karena tanpa tokoh sebuah cerita tidak akan ada. Dan tokoh sering juga disebut penggambaran watak dan kepribadian secara tidak langsung.
Dalam kaitan ini, Aminuddin (1987 : 79)menegaskan, “para tokoh yang terdapat dalam suatu cerita memiliki peranan yang berbeda-beda. Seorang tokoh yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita disebut dengan tokoh inti atau tokoh utama, sedangkan tokoh yang memiliki peranan yang tidak penting karena pemunculannya hanya melengkapi, melayani, mendukung pelaku utama disebut tokoh tambahan atau tokoh pembantu”.
Tokoh masing-masing memiliki peran dan fungsi tersendiri, ada yang sering muncul atau sering diceritakan (sentral) dan bahkan hanya sebagai peran tambahan. Dalam hal ini Sumardjo (1988) mengungkapkan bahwa tokoh berdasarkan fungsinya memiliki peran sebagai berikut :                                                                     
1.    TokohSentral                                                                                                                                            Tokoh Sentral adalah tokoh yang banyak mengalami peristiwa dalam cerita. Tokoh sentral dibagi menjadi dua, yaitu :                                                                                                                              
a.    Tokoh sentral protagonis
Tokoh sentral protagonist adalah tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-nilai positif.                                                                                                                              
b.     Tokoh sentral antagonis 
Tokoh sentral antagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonis atau menyampaikan nilai-nilai negatif.
2.    Tokoh Bawahan   
          Tokoh bawahan adalah tokoh-tokoh yang mendukung atau membantu tokoh sentral. Tokoh bawahan dibedakan menjadi tiga, yaitu :
                                                                                                                
a.    Tokoh andalan  
Tokoh andalan adalah tokoh bawahan yang menjadi kepercayaan tokoh sentral (protagonis atau antagonis).
b.    Tokoh tambahan
Tokoh tambahan adalah tokoh yang sedikit sekali memegang peran dalam peristiwa cerita.
c.    Tokoh lataran 
Tokoh lataran adalah tokoh yang menjadi bagian atau berfungsi sebagai latar cerita saja.                                           
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa tokoh adalah pelaku atau pemeran dari dalam cerita yang menitikberatkan kepada kegiatannya sehari-hari dalam kehidupan suatu karya sastra. Peran dan fungsi tokoh masing-masing memiliki keragaman, karena peran seorang tokoh dalam sebuah cerita mewakili karakter dari karya itu masing-masing berbeda, maka dari itulah seorang tokoh memiliki keragaman ada sebagai tokoh sentral protagonis yang selalu berbuat baik (positif) dan tokoh sentral antagonis yang bertentangan dengan protagonis (negatif) dan adapula tokoh bawahan yaitu tokoh pemeran pembantu tokoh utama dalam sebuah cerita.
Kemudian penokohan, penokohan merupakan keseluruhan gerak laku yang terdorong oleh motivasi-motivasi kejiwaan yang disuguhkan oleh pengarang dalam sebuah karya sastra.
Menurut KBBI (2000 : 1149) bahwa “penokohan adalah sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran, perbuatan, tabiat dan budi pekerti”. Dalam hal ini Tarigan juga berpendapat, (1982 : 141) bahwa perwatakan atau karakterisasi adalah proses yang digunakan oleh seorang pengarang untuk menciptakan tokoh-tokoh fisiknya.
Selanjutnya Semi (1990 : 29) menegaskan tentang tokoh cerita sebagai berikut :
“Tokoh cerita biasanya mengemban suatu perwatakan tertentu yang diberi bentuk dan isi oleh pengarang. Perwatakan (karakterisasi)dapat diperoleh dengan memberi gambaran mengenai tindak-tanduk, ucapan atau sejalan tidaknya antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan, perilaku para tokoh dapat diukur melalui tindak-tanduk, ucapan, kebiasaan, dan sebagainya ”.
Ada berbagai upaya yang akan ditempuh pengarang dalam membangun watak pertokohan seperti yang dikemukakan oleh Aminuddin (1987 : 80-81), yakni:
“Dalam upaya memahami watak pelaku, pembaca dapat menelusurinya dengan cara:                                     
1.    Tuturan pengarang terhadap karakteristik pelakunya.
2.    Gambaran yang diberikan pengarang lewat gambaran lingkungan kehidupannya
3.    Menunjukan bagaimana perilakunya.
4.     Melihat bagaimana tokoh itu berbicara tantang dirinya sendiri.
5.    Memahami bagaimana jalan pikirnya. 
6.    Melihat tokoh lain berbicara tentangnya.
7.    Melihat tokoh lain berbincang dengannya.      
8.    Melihat bagaimana tokoh-tokoh yang lain itu memberikan reaksi terhadapnya.      
9.    Melihat bagaimana tokoh itu dalam mereaksi tokoh yang lainnya”.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa perwatakan adalah keseluruhan sifat tokoh atau pelaku yang digambarkan oleh pengarang didalam karyanya. Sifat ini merupakan segala tindak-tanduk, ucapan, kebiasaan dan keadaan fisik tokoh tersebut. Penokohan ini selalu dihubungkan dengan tokoh atau pelaku yang ada dalam sebuah cerita. Setiap peristiwa atau kejadian yang ada didalam sastra berlangsung sedemikian rupa dengan adanya tokoh cerita.

2.2 Alur
    Rentang pikiran atau mungkin juga disebut dengan istilah jalan cerita dan sebagainya. Barangkali alur berkembang sesuai dengan perkembangan zamannya. Sebab seperti apa yang dikatakan J.S. Badudu dalam bukunya yang berjudul Inilah Bahasa Indonesia Yang Baik. Bahwa bahasa yang tumbuh baik itu dalam karya sastra senantiasa berubah dan perubahan itu meliputi bidang bahasa secara menyeluruh termasuk soal istilah alur (plot).
Semi (1990 : 43) mengatakan bahwa alur atau plot adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai interaksi fungsional yang sekaligus menandai urutan bagian bagian seluruh fiksi. Sedangkan yang dikemukakan oleh Rene Wellek dan Austin Warren(1985 : 12) bahwa alur adalah peristiwa-peristiwa yang dirangkai dalam suatu urutan yang logis. Rangkaian peristiwa itu menurut forster, haruslah punya hubungan kausal atau sebab-akibat.
Dari pendapat diatas jelaslah bahwa alur itu sangat penting untuk merangkaikan peistiwa yang akan ditampilkan oleh pengarang dalam suatu cerita yaitu dengan memperhatikan kepentingan dan berkembangnya suatu cerita itu dan menggambarkan bagaimana setiap tindakan yang saling berhubungan antara satu dengan yang lain serta bagaimana seorang tokoh itu terkait dalam kesatuan cerita.
Dalam hal ini Aminuddin berpendapat (1987 : 83) bahwa “alur pada umumnya adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwwa, sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita, dalam hal ini sama dengan istilah plot maupun struktur cerita”.
Alur juga merupakan suatu rentetan peristiwa yang diurutkan peristiwa yang akan ditampilkan dengan memperlihatkan kepentingan dalam cerita. Alur suatu cerita menggambarkan bagaimana setiap tindakan yang saling berhubungan satu dengan yang lain atau mempunyai proses kausal atau sebab-akibat, dan bagaimana tokoh menyatu dengan cerita.
Juga dalam hal ini, Nurgiyantoro (2005 : 68) berpendapat bahwa “alur merupakan aspek terpenting yang harus dipertimbangkan, karena aspek inilah juga yang pertama-tama menetukan menarik tidaknya suatu cerita dan memiliki kekuatan untuk mengajak pembaca secara total untuk mengikuti cerita.
Adanya alur cerita akan terbentuk suatu tahapan-tahapan yang menjalin suatu cerita melalui para pelaku dalam suatu pengisahan, dan biasanya juga alur adalah elemen penting yang menyelaraskan gagasan tentang siapa, apa, bagaimana, dimana, mengapa, dan kapan. Dengan kata lain alur itu merupakan jalinan asal muasal kejadian dalam perkembangannya sebuah cerita. Dalam kaitan ini, Aminuddin (1987 : 83) mendefenisikan plot sebagai berikut, plot adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa, sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam sebuah cerita. Kemudian plot merupakan rangkaian kisah tentang peristiwa yang bersebab, dijalin dengan melibatkan konflik atau masalah yang pada akhirnya diberi peleraian.
Selanjutnya Lukens (Nurgiyantoro, 2005:68) mengemukakan bahwa alur merupakan urutan kejadian yang memperlihatkan tingkah laku tokoh dalam aksinya. Sejalan dengan itu Muchtar Lubis(dalam Eri, 2005 : 29) membagi alur menjadi lima tahapan secara berurutan yaitu :
1. Exposition (pengarang mulai melukiskan keadaan sesuatu)
2. Generating (peristiwa mulai bergerak)
3. Ricing Action (keadaan mulai memuncak)
4. Climax (puncak)
5. Denoument (penyelesaian)
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa alur atau plot merupakan suatu rangkaian peristiwa dengan peristiwa yang lain dengan melibatkan konflik atau masalah serta diberi penyelesaiannya dan peristiwa itu terjadi berdasarkan sebab akibat dan alur akan melibatkan masalah peristiwa dan aksi yang dilakukan dan ditampakan kepada tokoh cerita.
Struktur alur diatas tersebut tentu saja tidak mutlak harus dipatuhi oleh setiap pengarang. Pengarang bebas menyusun alur ceritanya sesuai dengan selera masing-masing. Malahan pengarang-pengarang sastra moderen sekarang lebih suka menggunakan sorot balik (flashback atau backtracking). Jika urutan kronologis peristiwa-peristiwa yang disajikan dalam karya sastra disela dengan peristiwa yang terjadi sebelumnya, maka terjadilah sorot balik (Panuti S. dalam PBI no.2 juni 1987 : 81). Sorot balik ini biasanya ditampilkan dalam dialog, dalam mimpi, atau lamunan tokoh yang menelusuri kembali jalan hidupnya.



2.3 Latar
    Latar merupakan salah satu aspek yang penting, karena setiap gerak laku tokoh-tokoh cerita yang menimbulkan peristiwa-peristiwa dalam cerita berlangsung dalam suatu tempat, ruang, dan waktu tertentu.
Menurut Cleanth Brooks dalam An Aproach Of Literature (1952 :819) latar adadlah latar belakang fisik, unsur tempat dan ruang dalam cerita. Rene Wellek dan Austin Warren (Theory of Literature, 1956: 221) mengemukakan, latar adalah lingkungan alam sekitar, terutama lingkungan dalam yang dipandang sebagai pengekspresian watak secara metonimik atau metaforik.
Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa latar adalah situasi tempat, ruang dan waktu terjadinya cerita. Tercakup didalamnya lingkungan geografis, rumah tangga, pekerjaan, benda-benda dan alat-alat yang berkaitan dengan tmpat terjadinya peritiwa cerita waktu, suasana dan periode sejarah.
Dalam bukunya An Introduction to the Study of Literature (1963) Hudson membagi latar cerita ini atas latar fisik (material) dan latar sosial. Termasuk dalam latar fisik adalah latar yanf berupa benda-benda fisik seperti bangunan rumah, kamar, perabotan, daerah, dan sebagainya. Latar sosial meliputi pelukisan keadaan sosial budaya masyarakat, seperti adat istiadat, cara hidup, bahasa kelompok sosial dan sikap hidupnya, dan lain-lain yang melatari peristiwa cerita.
 Latar atau setting adalah lingkungan fisik tempat kegiatan berlangsung. Dalam arti yang lebih luas, latar mencakup tempat, waktu dan kondisi-kondisi psikologis dari semua yang terlibat dlam kegiatan itu. (Tarigan, 1982 : 157)


Menurut Semi (Oktober, 1993 : 5),
“Latar atau landas tumpu (setting) cerita adalah lingkungan tempat peristiwa terjadi. Termasuk didalam latar ini adalah tempat atau ruang yang dapat diamati seperti kampus, di sebuah kapal yang berlayar ke hongkong, dijakarta, di sebuah puskesmas, di dalam penjara di paris dan sebagainya. Termasuk di dalam unsure latar atau landas tumpu ini adalah waktu, hari, tahun, musim atau periode sejarah misalnya di zaman perang kemerdekaan, di saat upacara sekaten dan sebagainya. Orang atau kerumunan yang berada di sekitar tokoh juga dapat di masukan ke dalam unsur latar, namun tokoh itu sendiri tidak termasuk latar.

Selanjutnya, Aminuddin (1987 : 67) berpendapat bahwa:
“setting (latar) juga berlaku dalam cerita fiksi karena peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam cerita fiksi juga selalu di latar belakangi oleh tempat, waktu, maupun situasi tertentu. Akan tetapi, dalam karya fiksi setting atau latar bukan hanya berfungsi sebagai latar yang bersifat fisikal untuk membuat suatu cerita menjadi logis, setting juga memiliki fungsi psikologis sehingga setting pun mampu menuansakan makna tertentu serta mampu menciptakan suasana-suasana tertentu yangmenggerakkan emosi atau aspek kejiwaan pembacanya. Dalam hal ini telah diketahui adanya setting yang metaforis”.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa latar adalah ruang atau tempat bahkan periode sejarah yang dapat diamati suasana terjadinya peristiwa di dalam karya sastra atau dengan kata lain setting adalah peristiwa dalam karya fiksi, baik berupa tempat, waktu, maupun peristiwa serta memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologis.
Dalam kaitan ini, Aminuddin (1987: 68) membedakan antara setting (latar) yang bersifat fisikal dengan setting (latar) yang bersifat psikologis yakni:
1. setting yang bersifat fisikal berhubungan dengan tempat, misalnya kota Jakarta, daerah pedesaan, pasar, sekolah, dan lain-lain serta benda-benda dalam lingkungan tertentu yang tidak menuansakan makna apa-apa, sedangkan setting psikologis adalah setting berupa benda-benda dalam lingkungan tertentu yang mampu menuansakan suatu makna serta mampu mengajak emosi pembaca.
2. setting fisikal hanya terbatas pada sesuatu yang bersifat fisik, sedangkan setting psikologis dapat berupa nuansa maupun sikap serta jalan pikiran suatu lingkungan masyarakat tertentu.
3. untuk memahami setting yang bersifat fisikal, pembaca cukup melihat dariapayanga tersirat, sedangkan pemahamann terhadap setting yang bersifat psikologis membutuhkan adanya penghayatan dan penafsiran.
4. terdapat saling pengaruh dan petumpangtindihan antara setting fisikal dengan setting psikologis.
Sejalan dengan itu, Sudjiman (Maini 1997 : 4 ) berpendapat bahwa pertama-tama latar memberikan informasi situasi (ruang dan tempat) sebagaimana adanya. Selain itu, adanya latar berfungsi sebagai proyeksi keadaan batin para pelaku. Dan menurut Jakob Sumardjo (1988) latar sebagai berikut :
Latar fisik/material. Latar fisik adalah tempat dalam wujud fisiknya (dapat di pahami melalui panca indra).
Latar fisik dapat di bedakan menjadi dua yaitu :
1. latar netral, yaitu latar fisik yang tidak mementingkan kekhususan waktu dan tempat.
2. latar spiritual, yaitu latar fisik yang menimbulkan dugaan atau asosiasipemikiran tertentu.
Kemudian latar sosial, latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok sosial, sikap, adat kebiasaan, cara hidup, bahasa, serta meyakini adanya magis berupa pawang dan lain-lain.


BAB III
 METODE

3.1 Pendekatan Analisis
Adapun metode yang di gunakan pada analisis novel ini yaitu metode penelitian dengan pendekatan struktural. Tidak seperti pada pendekatan lain, pendekatan struktural merupakan pendekatan yang sudah sangat sering di gunakan. Hal ini menandakan bahwa pendekatan ini mudah di pahami dan di laksanakan dalam pengkajian sastra. Pendekatan ini bertujuan untuk membongkar dan memperkaya secara cermat, keterkaitan dan keterjalinan semua unsur dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna yang menyeluruh.
Pendekatan ini membatasi diri pada penelaahan karya sastra itu sendiri, terlepas dari soal pengarang dan pembaca. Dengan kata lain, pendekatan ini memandang menelaah sastra dari segi intrinsik yang membangun suatu karya sastra yaitu tema, alur, tokoh, latar, dan gaya bahasa. Hal ini sesuai dengan apa yang menjadi tujuan analisis ini yaitu pengkajian terhadap pencitraan unsur novel Karena Kutahu Engkau Begitu tetapi dalam analisis in hanya dititikberatkan pada pengkajian dan pencitraan baik tokoh, alur, maupun latar, inilah yang menjadi alasan mengapa penulis menggunakan pendekatan struktural ini.
Karena tujuan dari analisis adalah pengkajian dan pencitraan baik tokoh, alur, maupun latar dalam novel Karena Kutahu Engkau Begitu karya Almino Situmorang, maka metode penelitian yang dipakai adalah metode deskriptif. Semua data yang didapatkan akan dideskripsikan, dianalisis, dan diinterpretasikan berdasarkan kategori yang sudah ditetapkan.

3.2 Sumber dan Sampel Data
Populasi analisis adalah sebuah novel  yang berjudul Karena Kutahu Engkau Begitu  karya Almino Situmorang. Sampelnya adalah semua kalimat, kata, frase, anak kalimat yang terkait dengan pendikripsian dari alur, tokoh, maupun.latar novel ini.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang dipakai dalam pengambilan data adalah ‘baca-catat’. Dalam artian bahwa penganalisis akan mengambil kalimat, kata, frase, anak kalimat apa pun yang dianggap sesuai dengan maksud dan tujuan analisis novel ini
3.4 Teknik Analisis Data
Data akan dianalisis dan akan dimasukkan ke dalam kategori yang sudah ditetapkan berdasarkan pengkajian dan pencitraan terhadap unsur-unsur pembangun sebuah karya sastra dari semua kalimat, kata, frase, dan anak kalimat tersebut yang ada dalam novel.
Adapun prosedur analisis data pada analisis ini menitikberatkan pada pengkajian unsur tokoh, alur, dan latar dalam novel Karena Kutahu Engkau Begitu adalah sebagai berikut :
1. Membaca teks sastra (dalam hal ini novel Karena Kutahu Engkau Begitu  karya almino Situmorang.
2. Mencari dan menentukan apa yang menjadi unsur-unsur yang membangun dalam hal ini, tokoh, alur, maupun latar dalam novel.

3.  Menganalisis dan mengklasifikasikan tokoh, alur, dan latar sesuai dengan kategori yang telah ditetapkan.
4.  Membuat kesimpulan mengenai hasil analisis data.



























ANALISIS NASKAH DRAMA "SEPASANG MERPATI TUA"


BAB II
KAJIAN PUSTAKA


2.1 Pengertian Drama
Drama adalah satu bentuk lakon seni yang bercerita lewat percakapan dan action tokokohnya. Akan tetapi, percakapan atau dialog itu sendiri bisa juga dipandang sebagai pengertian action. Meskipun merupakan satu bentuk kesusastraan, cara penyajian drama berbeda dari bentuk kekusastraan lainnya. Novel, cerpen dan balada masing-masing menceritakan kisah yang melibatkan tokoh-tokoh lewat kombinasi antara dialog dan narasi, dan merupakan karya sastra yang dicetak. Sebuah drama hanya terdiri atas dialog; mungkin ada semacam penjelasannya, tapi hanya berisi petunjuk pementasan untuk dijadikan pedoman oleh sutradara. Oleh para ahli, dialog dan tokoh itu disebut hauptext atau teks utama; petunjuk pementasannya disebut nebentext atau teks sampingan.
Terdapat beberapa definisi drama, yaitu:
1.    Drama adalah kualitas komunikasi, situasi, action (segala apa yang terlihat dalam pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (exciting), dan ketegangan para pendengar atau penonton.
2.    Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action). Jika buku roman menggerakkan fantasi kita, maka dalam drama kita melihat kehidupan manusia diekspresikan secara langsung dimuka kita.
3.    Drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog, dan diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action dihadapan penonton (audience). Harymawan, (1998:1-2).
Dari ketiga pengertian di atas yang dikemukakan oleh Harymawan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa drama adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan diatas pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media percakapan, gerak, dan laku, dengan atau tanpa dekor, yang di dasarkan pada naskah drama tertulis atau secara improvisasi, dengan atau tanpa musik, nyanyian, dan tarian.

2.2 Unsur Intrinsik
Unsur-unsur yang membangun karya sastra dari dalam karya sastra itu sendiri adalah unsur intrinsik. Unsur intrinsi diantaranya adalah:
1.    Tema    
Tema adalah  gagasan/ide/dasar cerita.

2.    Tokoh dan Penokohan
Dalam drama tokoh cerita yang disajikan, walaupun kadang-kadang dialami oleh binatang atau mahluk lain, umumnya dialami oleh tokoh-tokoh cerita yang berupa manusia. Tokoh cerita adalah orang-orang yang mengambil bagian yang mengalami peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam plot. (Sumardjo dan Zaini K.M, 1987:144)
Adapun sikap dan kedudukan tokoh cerita dalam suatu karya sastra drama beraneka ragam. Ada yang bersifat penting dan digolongkan kepada tokoh utama dan digolongkan tokoh pembantu atau minor, sering kita lihat  baik di telivisi maupun di bioskop kita bertanya siapa pemeran utama dalam cerita tersebut. Artinya kita tahu bahwa yang memerankan tokoh utama dalam cerita itu. Cerita dalam drama ada tokoh yang selalu berbuat kebajikan ada pula yang berbuat kemungkaran, kejahatan dan lain-lain.
Tokoh masing-masing memiliki peran dan fungsi tersendiri, ada yang sering muncul atau sering diceritakan (sentral) dan bahkan hanya sebagai peran tambahan. Dalam hal ini Sumardjo (1988) mengungkapkan bahwa tokoh berdasarkan fungsinya memiliki peran sebagai berikut:                                                                     
1.    Tokoh Sentral   
       Tokoh Sentral adalah tokoh yang banyak mengalami peristiwa dalam cerita. Tokoh sentral dibagi menjadi dua, yaitu:                                                                                                                              
a.    Tokoh sentral protagonis
       Tokoh sentral protagonist adalah tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikannilai-nilai positif.                                                                                                                              
b.     Tokoh sentral antagonis 
        Tokoh sentral antagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonis atau menyampaikan nilai-nilai negatif.
2.    Tokoh Bawahan   
          Tokoh bawahan adalah tokoh-tokoh yang mendukung atau membantu tokoh sentral. Tokoh bawahan dibedakan menjadi tiga, yaitu :                                                                                                
a.    Tokoh andalan  
Tokoh andalan adalah tokoh bawahan yang menjadi kepercayaan tokoh sentral (protagonis atau antagonis).
b.    Tokoh tambahan
Tokoh tambahan adalah tokoh yang sedikit sekali memegang peran dalam peristiwa cerita.
c.    Tokoh lataran 
Tokoh lataran adalah tokoh yang menjadi bagian atau berfungsi sebagai latar cerita saja.                                           
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa tokoh adalah pelaku atau pemeran dari dalam cerita yang menitikberatkan kepada kegiatannya sehari-hari dalam kehidupan suatu karya sastra. Peran dan fungsi tokoh masing-masing memiliki keragaman, karena peran seorang tokoh dalam sebuah cerita mewakili karakter dari karya itu masing-masing berbeda, maka dari itulah seorang tokoh memiliki keragaman ada sebagai tokoh sentral protagonis yang selalu berbuat baik (positif) dan tokoh sentral antagonis yang bertentangan dengan protagonis (negatif) dan adapula tokoh bawahan yaitu tokoh pemeran pembantu tokoh utama dalam sebuah cerita.
Tokoh protagonis adalah tokoh yang pertama-tama berprakarsa dan dengan demikian berperan sebagai penggerak cerita atau tokoh yang pertama-tama menghadapi masalah dan terlibat kesukaran-kesukaran. Tokoh protagonis biasanya disenangi penonton. Sedangkan tokoh antagonis adalah tokoh yang berperan sebagai penghalang dan masalah bagi protagonis.
Penokohan atau perwatakan dalam drama kebanyakan pemeran mengungkapkan wataknya dengan jalan menjelaskan kepada penonton. Adakalanya sekalipun pemeran atau tokoh mengungkapkan wataknya juga dapat mengungkapkan watak lain artinya bermuka dua. Namun ada cara lain untuk mangungkapkan watak tokoh adalah dengan menampilkan orang kepercayaan. Misalnya supir, pembantu rumah tangga, teman akrab, dan sebagaimya. Dengan munculnya orang kepercayaan ini dalam pentas menyebabkan pemeran utama itu dapat terungkap secara baik, dan dapat pula dengan perilaku atau action. Perilaku ini hendaknya ditampilkan dalam bentuk segi tiga, artinya ada dua perwatakan atau sikap yang bertentangan dan ada satu sikap atau perwatakan yang berada di tengah. (M. Atar Semi, 1998:173)

3.   Alur Cerita atau Plot
Alur cerita atau plot adalah rangkaian peristiwa yang satu sama lain di hubungkan dengan hukum sebab akibat. Artinya peristiwa pertama menyebabkan terjadinya peristiwa kedua (Sumarjo dan Zaini KM,1986:139).
Alur dalam drama mempunyai kekhususan dibandingkan dengan alur fiksi. Adapun kekhususan, kekhususan alur drama ditimbulkan oleh karakteristik drama itu sendiri, yaitu :
a.   Alur mestilah merupakan alur cerita yang dapat dilakukan oleh manusia biasa*dimuka publik penonton.
b.  Alur drama mesti jelas, bila tidak maka akan sukar sekali diteliti penonton.
c.   Alur drama mestilah sederhana dan singkat, dalam arti dia tidak boleh berputar kemana-mana, tetapi berpusat pada suatu peristiwa tersebut. (Semi, 1988:161-162).

4.   Latar   
Latar atau setting adalah lingkungan fisik tempat kegiatan berlangsung. Dalam arti yang lebih luas, latar mencakup tempat, waktu dan kondisi-kondisi psikologis dari semua yang terlibat dlam kegiatan itu. (Tarigan, 1982 : 157)
Menurut Cleanth Brooks dalam An Aproach Of Literature (1952 :819) latar adalah latar belakang fisik, unsur tempat dan ruang dalam cerita. Rene Wellek dan Austin Warren (Theory of Literature, 1956: 221) mengemukakan, latar adalah lingkungan alam sekitar, terutama lingkungan dalam yang dipandang sebagai pengekspresian watak secara metonimik atau metaforik.
Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa latar adalah situasi tempat, ruang dan waktu terjadinya cerita. Tercakup di dalamnya lingkungan geografis, rumah tangga, pekerjaan, benda-benda dan alat-alat yang berkaitan dengan tmpat terjadinya peritiwa cerita waktu, suasana dan periode sejarah.
Latar atau setting adalah lingkungan fisik tempat kegiatan berlangsung. Dalam arti yang lebih luas, latar mencakup tempat, waktu dan kondisi-kondisi psikologis dari semua yang terlibat dlam kegiatan itu. (Tarigan, 1982 : 157)

5.   Amanat   
Amanat adalah pesan atau sisipan nasihat yang disampaikan pengarang melalui tokoh dan konflik dalam suatu cerita.

6.   Sudut Pandang
Sudut pandang adalah cara pengarang menempatkan dirinya dalam suatu karangna ciptaanya. Cara pengarang menggunakan sudut pandang adalah cara bercerita orang pertama (memakai aku atau saya) dan cara bercerita orang ketiga.

2.2 Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsure yang mebangun karya sastra dari luar unssr ekstrinsik di antaranya adalah:
1.    Nilai sosial dan budaya adalah nilai yang berkaitan dengan norma yang ada dalam masyarakat dan adat istiadat.
2.    Nilai moral yaitu nilai yang berkaitan dengan akhlak/budi pekerti/susila atau baik buruk tingkah laku.
3.    Nilai agama / religius yaitu nilai yang berkaitan dengan tuntutan beragama.
4.    Nilai ekonomi yaitu nilai yang berkaitan kehidupan perekonomian.


2.3    Kelengkapan Drama
•    Naskah drama : skrip yang dijadikan panduan pemain sebelum pentas.
•    Penulis naskah : orang yang menulis skenario dan dialog dalam bentuk jadi naskah drama
•    Sutradara : orang yang memimpin atau yang mengatur suatu kelompok drama.
•    Pemain : orang yang berperan melakonkan cerita
•    Lighting : pengatur cahaya dalam pementasan
•    Tata busana/make up : bagian kelengkapan drama yang bertugas merias dan memakaian propertis pakaian
•    Tata suara : pengatur suara untuk memunculkan efek tertentu dalam pementasan
•    Tata panggung : kelengkapan drama yang mengatur latar setiap adegan
•    Panggung : tempat bagi pemain untuk melakonkan cerita


BAB II
 HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1    Unsur Intrinsik
3.1.1  Tema
Dalam sebuah drama tidak terlepas dari tema. Sebab tema adalah gagasan atau ide cerita. Adapun tema dari drama yang berjudul Sepasang Merpati Tua karya Bakti Soemanto adalah Pencarian Makna Hidup. Karena dalam drama Sepasang Merpai Tua karya Bakti Soemanto diceritakan tentang seorang Kakek yang memprotes kehidupan yang dijalaninya. Dan sang Kakek berusaha mencari makna hidup lewat jabatan-jabatan yang ia impikan bersama sang istri, si nenek.

3.1.2  Tokoh dan Penokohan
Dalam sebuah drama terdapat tokoh. Drama Sepasang Merpati Tua karya Bakti Soemanto memiliki 2 tokoh yaitu :
1.Kakek
2.Nenek
Dalam sebuah darama memiliki seorang tokoh utama.Tokoh utama dalah seoarng tokoh yang berperan sebagai penggerak cerita atau tokoh yang pertama-tama menghadapi masalah dan terlibat kesukaran. Dan yang menjadi tokoh utama dalam drama Sepasang Merpati Tua karya Bakti Soemanto adalah Kakek. Sedangkan yang menjadi tokoh bawahan adalah Nenek. Tokoh yang mendukung atau membantu tokoh utama.


a. Deskripsi Karakter Tokoh
1) Kakek
Kakek adalah seorang yang kritis menghadapi hidup ini dan mementingkan lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat dilihat dari beberapa dialog berikut :
Kakek :    Banyak diplomat yang dikirim ke pos-pos manapun di dunia ini. Tapi pemerintah belum punya wakil untuk bicara-bicara dengan mereka yang ada di kolong jembatan, bukan? Ini tidak adil. Maka aku menyatakan diri. Maka aku menyediakan diri untuk mewakili pemerintahan ini sebagai diplomat kolong jembatan.
…..
Kakek:    Bidang sampah-sampah! Ini perlu sekali, salah satu penyebab adanya banjir di kota ini, karena orang-orang kurang tahu artinya selokan-selokan itu. Kau lihat di jalan-jalan yang sering tergenang air itu. Coba selokan itu kita keruk, sampahnya luar biasa banyaknya…
….
Kakek :    Kira berpikir karena kita mengerti. Tapi karena berpikir perlu sistem, sistem membelenggu kita. Kita jadi tolol. Saya lagu-lagu. Saya rindu puisi-puisi. Orang-orang zaman ini tidak mengerti puisi-puisi. Kita sudah jadi robot semua. Berjalan dengan satu displin mati. Dengan teori yang tidak kita pahami sendiri. Keutuhan manusia sudah dikerdilkan. Hubungan seks tinggal bernilai nafsu. Kesenian diukur filsafat seketika, atau kesenian sudah dikonsepkan. Juja hidup kita didoktrinkan. Ini tidak bisa. Akibtnya, kita tenggelam kepada ukuran-ukuran mini. Kita rindu pada Sofokles, Aristoteles, Albert Camus, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Goethe, Shakespeare. Mereka harus ditakdirkan kembali di sini. Citra manusiaan yang terpancar dari karya-karya mereka harus dipancarkan kembali di sini.
2)    Nenek
Nenek adalah seorang yang berselera tinggi. Hal ini dapat dilihat dari beberapa dialog di bawah ini :
Nenek :    Mestinya kau tidak usah jadi professor saja, Pak. Jadi diplomat ulung saja.
Kakek :     Aku kurang senang jadi diplomat.
Nenek :     Tapi kau lebih terkemuka, lebih ternama, lebih terkenal.
Nenek:    Itu lebih terhormat di PBB. Siapa tahu kaku akan dipilh jadi ketua siding, lantas kelak jadi ketua sidang.
Nenek:    Aku tidak rela kau ditempatkan di pos terhina itu.

3.1.3  Alur
         a. Sekuen   
Adapun sekuen dalam drama ini adalah
1.    Nenek duduk menyulam sambil menunggu kedatangan kakek
2.    Kakek datng dengan menggunakan peci
3.    Nenek memprotes penampilan kakek
4.    Kakek mengambil koran lalu membacanya
5.    Nenek menghampiri kakek
6.    Nenek menangis
7.    Kakek memuji keberanian nenek
8.    Nenek menginginkan kakek menjadi diplomat
9.    Kakek tidak menyetujui keinginan nenek
10.    Nenek termenung
11.    Kakek akhirnya menyetujui keinginan nenek untuk menjadi diplomat
12.    Kakek menginginkan dirinya menjadi diplomat kolong jembatan
13.    Nenek tidak menyetujui keinginan kakek
14.    Kakek memberikan pengertian kepada neneek untuk menerima keinginannya
15.    Nenek termenung
16.    Kakek menjelaskan kepada nenek tentang kehidupan yang mereka jalani ternyata tipuan belaka
17.    Nenek bingung terhadap akan perkataan kakek
18.    Kakek terus menjelaskan jalannya kehidupan ini
19.    Kakek rebah
20.    Nenek panik dan menunutun kakek ke sofa
21.    Nenek menangis
22.    Kakek berdiri dan memperhatikan nenek
23.    Nenek menanyai kakek
24.    Kakek terus menjelaskan dan menyuruh nenek menangis
25.    Nenek mendengar suara jam dinding berdentang dua belas kali
26.    Nenek dan kakek termenung
27.    Nenek merasa heran sebab kembali terdengar suara jam berdentang sebanyak dua belas kali
28.    Kakek kembali menjelaskan tentang makna hidup
3.4     Latar
a.     Identifikasi Tempat
    Dalam drama yang berjudul Sepasang Merpati Tua karya Bakti Soemanto ini terjadi di satu tempat yaitu :
1.    Di atas panggung yang menggambarkan ruang tengah sepasang orang tua. Hal ini ditunjukkan oleh prolog yang ada dalam drama, yaitu :

“Panggung menggambarkan sebuahh ruang tengah rumah sepasang orang tua…….”

b.    Identifikasi Waktu
Cerita dalam darama ini terjadi pada :
1.    sore hari. Hal ini dapat dilihat pada kutipan prolog berikut :

…waktu drama ini dimulai, nenek duduk sambil menyulam. Sebentar-sebentar ia menengok ke belakang, kalau-kalau suaminya dating. Saat itu hari menjelang malam.

2.    malam hari. Hal ini dapat dilihat pada kutipan dialog berikut :
...
Nenek :    Nanti saja, kalau sudah tak ada banyak orang…(terdengar suara jam dinding dua belas kali).
Nenek :    Sudah larut tengah malam
Kakek :    Ya. Dan sebentar lagi ambang pagi akan datang.


3.4     Amanat
Amanat adalah pesan atau sisipan nasihat yang disampaikan pengarang melalui tokoh dan konflik dalam suatu cerita. Amanat yang dapat diambil dalam drama yang berjudul Sepasang Merpati Tua adalah umur ataupun berapa lama kita menjalani kehidupan ini tak bisa menjamin bahwa kita mengerti akan makna hidup yang kita jalani. Hal ini dapat dilihat pada kutipan dialog di bawah ini :
….
Nenek :    Kau masih hidup….?
Kakek :    Aku tidak begitu yakin, selama aku terbelenggu oleh doktrin. Aku hanya mengerti, apa aku hidup atau tidak, kalau aku menghayatihidupku sendiri….
Nenek :    Tetapi kau berbicara, kau bernapas…
Kakgk :    Bukan itu ukuran adanya kehidupan
Nenek :    Jangan bicara yang sukar-sukar, aku tidak mengerti.
Kakek :    Tentu saja, Karen kau belum mengerti hidup.
Nenek :    Delapan puluh tahun kujalani hidup. Benarkah aku belum mengerti.
Kakek :    Umurpun bukan ukuran, selama kau menjalani hidup kau mengikuti doktrin-doktrin itu….
Kita juga harus memperhatikan orang-orang di bawah kita karena kita di dunia ini tak hidup sendiri, tapi hidup bermasyarakat. Hal ini dapat dilihat pada kutipan dialog berikut :
Nenek :    Aku tidak rela kalau kau ditempatkan di pos terhina itu
Kakek :    Kau belum tahu, justru paling mulia di antara pos-pos di manapun juga
Nenek :    Kau sudah tidak waras
Kakek :    Seorang diplomat pada hakikatnya adalah seorang yang pandai ngomong. Pandai meyakinkan orang, pandai membujuk. Orang-orang di kolong jembatan itu perlu dibujuk agar hidup baik-baik. Berusaha mencari pekerjaan yang layak dan timbul kepercayaan diri sendiri. Tidak sekedar dihalau, diusir, kalau malau ada orang gede lewat saja. Jadi untuk mengatasi tindakan-tindakan kasar ini, perlu ada wakil yang bisa membujuk…

3.5      Sudut Pandang
Sudut pandang adalah cara penagarang menempatkan dirinya dalam suatu karangan ciptaanya. Pada drama ini pengarang menempatkan dirinya sebagai tokoh sampingan atau orang ketiga tunggal karena pengarang menceritakan orang lain atau yang menjadi tokoh adalah orang lain. Bukan “aku” atau “saya”. Hal ini dapat dilihat bahwa tokoh yang dilibatkan pengarang adalah Kakek dan Nenek.

3.2    Unsur Ekstrinsik
3.2.1    Nilai Sosial dan Budaya
Yang menjadi nilai sosial dan budaya dalam drama yang berjudul Sepasang Merpati Tua karya Bakti Soemanto adalah kepedulian sang kakek terhadap kehidupan orang-orang di sekitarnya terutama orang-orang yang hidup di bawah kolong jembatan. Perhatikan dialog berikut :

Nenek :   Au tidak rela kalau kau ditempatkan di pos terhina itu
Kakek :    Kau belum tahu, justru paling mulia di antara pos-pos di manapun juga
Nenek :    Kau sudah tidak waras
Kakek :    Seorang diplomat pada hakikatnya adalah seorang yang pandai ngomong. Pandai meyakinkan orang, pandai membujuk. Orang-orang di kolong jembatan itu perlu dibujuk agar hidup baik-baik. Berusaha mencari pekerjaan yang layak dan timbul kepercayaan diri sendiri. Tidak sekedar dihalau, diusir, kalau malau ada orang gede lewat saja. Jadi untuk mengatasi tindakan-tindakan kasar ini, perlu ada wakil yang bisa membujuk…

3.2.2    Nilai Moral
Yang menjadi unsur moral dalam drama yang berjudul Sepasang Merpati Tua karya Bakti Soemanto adalah si kakek yang tak goyah terhadap iming-iming kekuasaan yang akan didapatnya nanti. Si Kakek lebih mementingkan manfaat dari apa yang dia kerjakan nantiya.
Kakek :    Bidang persampahan
Nenek :      Apa?
Kakek :    Bidang sampah-sampah! Ini perlu sekali, salah satu sebab adanya banjir di kota ini, karena orang-orang kurang tahu artinya selokan-selikan itu. Kau lihat di jalan-jalan yang sering tergenang air itu. Coba selokan itu kita keduk, sampahhnya luar biasa banyaknya…


3.2.3    Nilai Agama
Yang menjadi unsur agama dalam drama ini adalah kemustahilan untuk diajak berdiskusi tentang kehidupan ini. Sebab Tuhan hanya diam saja dan orang mengetahui apa yang mejadi rencana Tuhan setelah terlaksana.
Nenek :        Kurang besar kedudukan itu. Atau diplomat surgawi saja ? (Kakek memandang Nenek)
Nenek :        Tapi lebih sukar, sebab Tuhan sukar diajak berdebat. Tuhan cuma diam saja. Orang hanya mengerti     apa mau Tuhan kalau sudah terlaksana sedang rencana-rencana selanjutnya. Masih gelap bukan? Bagaimana kau mengajukan argumentasi-argumentasimu jika mau ajak Tuhan berdiskusi? (Kakek geleng kepala)

3.2.4    Unsur ekonomi
Yang menjadi unsur ekonomi dalam drama ini adalah banyaknya rakyat yang kehidupannya masih jauh dari kategori berkecukupan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya masyarakat yang masih tinggal di bawah kolong jembatan. Hal ini dapat dilihat pada kutipan dialog berikut :

Kakek :    Seorang diplomat pada hakikatnya adalah seorang yang pandai ngomong. Pandai meyakinkan orang, pandai membujuk. Orang-orang di kolong jembatan itu perlu dibujuk agar hidup baik-baik. Berusaha mencari pekerjaan yang layak dan timbul kepercayaan diri sendiri. Tidak sekedar dihalau, diusir, kalau malau ada orang gede lewat saja. Jadi untuk mengatasi tindakan-tindakan kasar ini, perlu ada wakil yang bisa membujuk…